Kedatangan Yang Mulia Raja Salman ke Indonesia menjadi sejarah baru, bukan hanya karena jumlah rombongannya yang sangat besar dan dilakukan setelah 47 tahun kemudian, namun juga karena kunjungan kenegaraan ini dilanjutkan dengan kegiatan berlibur.  Berlibur merupakan kegiatan mengisi waktu luang dengan aktivitas  yang menyenangkan, melepas lelah, menjauh dari rutinitas sehari-hari, untuk mendapatkan kembali kesegaran fisik dan mental.  Kegiatan ini dapat dilakukan dengan mengunjungi suatu tempat, yang dapat memenuhi harapannya untuk mendapatkan kesegaran fisik dan mental tadi.  Maka pilihan berlibur Raja Salman ke Bali menggambarkan persepsi beliau bahwa Bali merupakan tempat yang dapat memberikan kenyamanan dan kesenangan serta mengembalikan kesegaran fisik dan mentalnya, sebelum kembali pada rutinitas pekerjaannya sebagai seorang raja.

Berlibur bagi seorang raja sekaliber Raja Salman yang merupakan raja terkaya ke-3 di dunia, dapat dilakukan di belahan bumi manapun, karena biaya bukan merupakan faktor pembatas. Dipilihnya Bali yang memiliki waktu tempuh sekitar  10 Jam dari Riyadh, Saudi Arabia, menunjukkan bahwa Indonesia dan Bali pada khususnya memiliki keistimewaan tersendiri bagi keluarga besar kerajaan.  Jika merujuk pada kekuatan dari pariwisata Indonesia, berdasarkan laporan dari World Economic Forum  2015, mengenai indeks daya saing pariwisata (Travel and Tourism Competitiveness Index) bahwa 3 kekuatan pariwisata Indonesia adalah harga yang bersaing, prioritas pada sektor travel dan pariwisata serta daya tarik unsur alam dan budaya.  Bagi keluarga raja, maka harga yang murah dan bersaing tentunya bukan menjadi daya tarik utama.  Maka kebijakan sector perjalanan dan pariwisata, serta kemenarikan unsur alam dan budaya Indonesia dapat diduga sebagai faktor penarik utamanya.  Promosi Wonderful Indonesia yang gencar dilakukan pemerintah khususnya di mancanegara serta kemenangan pariwisata Indonesia pada World Halal Tourism Award 2016, di Abu Dhabi, Dubai sebagai World’s Best Halal Destination, World’s Best Halal Honeymoon, World’s Best Halal Hotel dan World’s Best Halal Culinery , tentunya membangun kepercayaan yang semakin kuat akan kualitas pariwisata Indonesia.  Keunikan alam tropis dengan limpahan sumber air dan keragaman budaya dari negara kepulauan juga menjadi daya tarik unggulan yang tidak dapat ditemukan kesamaannya di belahan bumi lain. 

Pilihan berlibur Raja Salman ini memberikan kebanggaan tersendiri bagi pemerintah Indonesia.  Dampak positif yang diprediksi setelah kedatangan Raja Salman ke Bali antara lain meningkatnya kepercayaan dunia terhadap Indonesia, khususnya Bali, sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman, khususnya bagi wisatawan muslim.  Dalam 3 tahun terakhir, wisatawan Timur Tengah yang melakukan perjalanan wisata terus meningkat. Sejak diberlakukannya kunjungan bebas visa pada tahun 2016, kunjungan wisatawan Timur Tengah merupakan yang tertinggi kenaikannya. Pada tahun 2016 jumlah turis Timur Tengah 240.000 wisatawan, meningkat 75% dari tahun 2015. Dan diperkirakan pada tahun 2017 akan meningkat menjadi 360.000 wisatawan, khususnya setelah kedatangan Raja Salman. Secara umum, wisatawan muslim Timur Tengah mencari destinasi wisata yang dapat menawarkan tempat berlibur yang memberikan pengalaman yang bernilai, akomodasi yang aman untuk keluarga serta makanan yang dijamin kehalalannya.  Mereka juga menginginkan agar destinasi yang dikunjungi  memiliki fasilitas beribadah  yang  memudahkan mereka untuk melaksanakan ibadahnya secara benar. Dengan diperpanjangnya lama tinggal Raja Salman selama di Bali, menunjukkan bahwa sebagai representatif wisatawan muslim, mereka merasa puas dengan pelayanan dan fasilitas wisata yang ada.

Prediksi terhadap meningkatnya jumlah wisatawan Timur Tengah tentunya akan memberikan gambaran tentang prospek usaha kepariwisataan di Indonesia. Terlebih lagi menurut data dari Kementrian Pariwisata menyebutkan, bahwa pengeluaran wisatawan mancanegara dari Arab Saudi rata-rata sebesar 1.750 dollar AS per kunjungan/wisman, sementara  wisman Uni Emirat Arab 1.500 dollar AS per kunjungan/wisman. Besaran ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengeluaran wisman dari Asia yang rata-rata 1.200 dollar AS per wisman/kunjungan. Karakteristik wisatawan yang memiliki daya beli tinggi (high spending power) ini tentunya akan mendorong ketertarikan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, sehingga pembangunan kepariwisataan di Indonesia akan semakin pesat.

Liburan Raja Salman ke Bali ini, haruslah ditindak lanjuti secara serius oleh pemerintah.  Dipilihnya Bali sebagai destinasi berlibur Raja Salman dan keluarga besarnya, diharapkan juga dapat mendorong pembangunan destinasi wisata halal di Indonesia.  Pemerintah Indonesia telah menetapkan 5 destinasi halal utama yaitu Aceh, Sumatra Barat, Lombok, Jakarta dan Jawa Barat. Wisatawan Timur Tengah menyukai destinasi wisata alam dan budaya, yang dapat ditemui keunikannya pada lima destinasi utama wisata halal Indonesia.  Prediksi peningkatan turis mancanegara  Timur Tengah diharapkan  akan berdampak pada akselerasi pembangunan sarana prasarana wisata di lima destinasi wisata halal prioritas tersebut.   Karena kesiapan standar wisata halal menjadi syarat utama bagi peningkatan kepuasan wisatawan Timur Tengah ke Indonesia.

Promosi destinasi halal Indonesia harus dilakukan sejalan dengan pemenuhan kelengkapan sarana prasarana wisata, sesuai dengan standar halal. Pembangunan destinasi wisata yang didasari oleh keunikan lokal alam dan budaya masyarakatnya akan memberikan pengalaman yang berbeda dan membangun persepsi akan ciri masyarakat muslim Indonesia yang khas, sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan Timur Tengah. Sebisa mungkin konsep pengembangan destinasi wisata halal ini haruslah berlandaskan pada kekuatan nilai lokal yang dapat memberikan pengalaman yang mengesankan, unik dan original. Karena pariwisata sesungguhnya adalah menjual pengalaman, dan pengalaman sang raja akan menjadi daya pikat yang kuat untuk bisa dirasakan oleh wisatawan lainnya.