Di awal tahun 2020 ini, seluruh dunia dikagetkan dengan munculnya pandemik COVID-19 (Corona). Akibatnya masyarakat di banyak negara diminta bahkan diwajibkan untuk mengikuti beberapa arahan pemerintah. Mulai dari anjuran untuk tetap berada di rumah hingga kebijakan karantina wilayah (lockdown). Berbagai upaya lain juga diambil pemerintah untuk menurunkan mobilitas manusia hingga titik terendah agar dapat megurangi penyebaran virus COVID 19.

Salah satu sektor yang terkena dampak terbesar dari pandemik ini adalah sektor pariwisata. Gaya hidup masyarakat untuk berwisata kini terpaksa tertunda. Kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya kegiatan wisata seperti saat ini memunculkan suatu pertanyaan, apakah kegiatan pariwisata bisa disubstitusi sehingga orang tidak perlu berpergian namun masih bisa merasakan pengalaman yang serupa dengan berwisata?

Salah satu teknologi yang semakin terus berkembang yang mungkin dapat menjawab pertanyaan tersebut adalah teknologi Virtual Reality (VR).  Sebenarnya pertanyaan ini telah ada sejak pertengahan tahun 90-an, hal ini ditandai dengan adanya beberapa studi yang membahas apakah teknologi VR akan dapat menggantikan kegiatan wisata seluruhnya 1)Cheong, R. (1995). The virtual threat to travel and tourism. Tourism Management, 16(6), 417-422.2)Perry Hobson, J., & Williams, A. P. (1995). Virtual reality: a new horizon for the tourism industry. Journal of vacation marketing, 1(2), 124-135.3)Williams, P., & Hobson, J. P. (1995). Virtual reality and tourism: fact or fantasy? Tourism Management, 16(6), 423-427. . Namun, menurut saya, pertanyaan ini perlu diangkat kembali dikarenakan teknologi VR telah semakin maju, ditambah dengan adanya isu bahwa pariwisata berperan besar terhadap meningkatnya jumlah emisi karbon secara global 4)Zeppel, H. (2011). Climate change and global tourism: A research compendium (Vol. 3): University of Southern Queensland, Australian Centre for Sustainable Tourism.

Penelitian VR di pariwisata sendiri sudah cukup banyak. Dalam dunia pariwisata, teknologi ini dapat bermanfaat dalam perencanaan dan pengelolaan destinasi, termasuk juga dalam pemanfaatannya bagi pemasaran, hiburan, aksesibilitas, edukasi dan pemeliharaan peninggalan bersejarah 5)Guttentag, D. A. (2010). Virtual reality: Applications and implications for tourism. Tourism Management, 31(5), 637-651.. Namun, berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh Yung dan Khoo-Lattimore 6)Yung, R., & Khoo-Lattimore, C. (2017). New realities: a systematic literature review on virtual reality and augmented reality in tourism research. Current Issues in Tourism, 22(17), 2056-2081., memang penelitian tentang VR di bidang pariwisata didominasi oleh penelitian bidang pemasaran 7)Griffin, T., Giberson, J., Lee, S. H. M., Guttentag, D., Kandaurova, M., Sergueeva, K., & Dimanche, F. (2017). Virtual reality and implications for destination marketing.8)Huang, Y. C., Backman, K. F., Backman, S. J., & Chang, L. L. (2016). Exploring the implications of virtual reality technology in tourism marketing: An integrated research framework. International Journal of Tourism Research, 18(2), 116-128. 9)Kim, M. J., Lee, C.-K., & Jung, T. (2020). Exploring consumer behavior in virtual reality tourism using an extended stimulus-organism-response model. Journal of Travel Research, 59(1), 69-89. 10)Rainoldi, M., Driescher, V., Lisnevska, A., Zvereva, D., Stavinska, A., Relota, J., & Egger, R. (2018). Virtual reality: an innovative tool in destinations’ marketing. The Gaze: Journal of Tourism and Hospitality, 9, 53-68. 11)Tussyadiah, I. P., Wang, D., & Jia, C. H. (2017). Virtual reality and attitudes toward tourism destinations. In Information and communication technologies in tourism 2017 (pp. 229-239): Springer.12)Tussyadiah, I. P., Wang, D., Jung, T. H., & tom Dieck, M. C. (2018). Virtual reality, presence, and attitude change: Empirical evidence from tourism. Tourism Management, 66, 140-154..

Tujuan utama dari teknologi VR sendiri adalah untuk menciptakan simulasi akan suatu pengalaman nyata, yang saking ‘terasa’ nyatanya menyebabkan penggunanya percaya bahwa ia sedang mengalami kondisi yang real, yang mana sebenarnya ia hanya berada di lingkungan virtual. Menurut Gutierrez, Vexo, & Thalmann 13)Gutierrez, M., Vexo, F., & Thalmann, D. (2008). Stepping into virtual reality: Springer Science & Business Media., pengalaman dalam VR dapat tergambarkan akibat dari adanya dua hal yang terjadi yaitu physical immersion dan psychological presence. Physical immersion mengacu pada kondisi dimana pengguna teknologi VR terisolasi dari dunia nyata, sedangkan psychological presence adalah kondisi psikologis dimana sang pengguna merasa bahwa dirinya berada di tempat lain. Konsep keberadaan (presence) ini dapat distimulasi dengan panca indra penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan pengecap 14)Cheong, R. (1995). The virtual threat to travel and tourism. Tourism Management, 16(6), 417-422.. Selama stimulasi tersebut dapat ‘memperdaya’ pikiran manusia maka persepsi pengguna bahwa dia sedang berada di tempat lain akan semakin terasa nyata. Tentu peran simulasi kinestetik juga akan berpengaruh untuk tercapainya keberhasilan dari teknologi VR ini.

Perkembangan teknologi saat ini sudah dapat menstimulasi beberapa panca indra tersebut. Sebagai contoh, indra pendengaran dapat distimulasi dengan adanya teknologi 3D sound synthesis. Selanjutnya, grafik yang nyata juga bisa diciptakan dengan video yang direkam dengan kamera 360 derajat, atau bahkan dengan adanya teknologi dari game engine terkini (Contoh: Unreal Engine) yang semakin mumpuni dalam membuat grafik virtual dengan kualitas mendekati kenyataan. Sedangkan untuk menstimulasi sentuhan, beberapa contoh teknologi yang telah dikembangkan, diantaranya haptic gloves dan VR suit. Terkait dengan kinestetik, telah ada teknologi omnidirectional treadmill, sehingga dapat menciptakan perasaaan bahwa pengguna VR sedang berjalan di dunia virtual. Dua indra yaitu penciuman dan pengecap memang teknologinya masih belum semaju yang lainnya, namun untuk indra penciuman, pengembangan akan digital scent technology masih akan semakin dikembangkan.

Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, bukan tidak mungkin bahwa simulasi virtual reality akan semakin canggih dan akan semakin nyata di masa depan, sehingga dapat membuat penggunanya merasakan sensasi berada di tempat lain. Bahkan dengan teknologi yang digunakan untuk membuat grafik game, pengguna VR juga dapat merasa berada di suatu tempat di masa lalu. Mereka bisa merasakan pengalaman yang seakan-akan terasa nyata ketika berada di suatu momen sejarah di medan pertempuran atau di suatu gerakan revolusi.

Namun, kembali kepada pertanyaan awal tulisan ini, yaitu apakah teknologi virtual reality dapat mengganti kegiatan pariwisata secara keseluruhan? Untuk menjawab ini, terdapat satu pertanyaan menarik yang diajukan oleh Hobson & Williams 15)Hobson, J. S. P., & Williams, A. P. (1995). Virtual reality: a new horizon for the tourism industry. Journal of vacation marketing, 1(2), 124-135., yaitu apa yang dicari wisatawan ketika berwisata? Motivasi dalam berwisata memang sangat beragam. Apabila jawabannya adalah, sebagai contoh, untuk melepaskan diri dari lingkungan atau rutinitas, maka virtual reality tourism bisa dijadikan pilihan. Akan tetapi jika alasannya misalnya untuk menjalin hubungan interpersonal dengan orang baru, maka akan sangat sulit membayangkan kemampuan teknologi ini dalam memenuhi keinginan tersebut.

Selanjutnya dengan adanya pemanfaatan teknologi VR bagi pariwisata, apakah justru akan menjadi mengurangi kegiatan wisata atau malah akan memicu pertumbuhan perjalanan wisata? Dewailly 16)Dewailly, J. M. (1999). Sustainable tourist space: from reality to virtual reality? Tourism Geographies, 1(1), 41-55. berpendapat bahwa dengan dimanfaatkannya teknologi ini dalam bidang pariwisata, maka dapat menyebabkan terjadinya dual tourism, dimana pengalaman kegiatan wisata merupakan campuran dari pengalaman virtual dan nyata. Walaupun dalam penelitian Tussyadiah, Wang, & Jia 17)Tussyadiah, I. P., Wang, D., & Jia, C. H. (2016). Exploring the persuasive power of virtual reality imagery for destination marketing. , terdapat satu temuan dimana salah satu partisipan penelitian merasa keinginan berkunjungnya berkurang setelah menggunakan tenologi VR. Hal ini diakibatkan karena destinasi yang diperlihatkan tidak sesuai dengan harapannya. Akan tetapi, kebanyakan partisipan yang lain menyatakan bahwa keinginan untuk berkunjungnya meningkat karena ingin merasakan pengalaman wisata secara utuh.

Cendikia berpendapat bahwa teknologi virtual reality tidak akan dapat mengganti kegiatan wisata secara keseluruhan 18)Cheong, R. (1995). The virtual threat to travel and tourism. Tourism Management, 16(6), 417-422.. Memang saya setuju bahwa dalam waktu dekat di masa depan, fenomena virtual reality tourism tidak akan bisa mengganti kegiatan pariwisata ‘secara menyeluruh’. Tetapi saya percaya bahwa fenomena ini dapat menjadi alternatif pengganti kegiatan wisata untuk beberapa kondisi tertentu. Seperti bagi orang-orang yang tidak dapat berpergian jauh, contohnya penyandang disabilitas atau orang tua 19)Sussmann, S., & Vanhegan, H. (2000). Virtual reality and the tourism product substitution or complement? ECIS 2000 Proceedings, 117., bagi orang-orang sibuk yang tidak punya waktu untuk berlibur, atau bahkan menjadi alternatif solusi ketika ada pandemik sehingga orang-orang dilarang berpergian jauh.

Menurut Dewailly 20)Dewailly, J. M. (1999). Sustainable tourist space: from reality to virtual reality? Tourism Geographies, 1(1), 41-55. kegiatan ini bisa menjadi suatu bentuk ‘soft tourism’. Saya sendiri lebih setuju apabila istilah yang digunakan untuk fenomena ini adalah ‘virtual tourism’, atau bisa juga menggunakan istilah ‘artificial tourism’ seperti yang digunakan oleh Williams & Hobson 21)Williams, P., & Hobson, J. P. (1995). Virtual reality and tourism: fact or fantasy? Tourism Management, 16(6), 423-427.. Mengapa demikian? Secara filosofis pengertian pariwisata sendiri mengandung kegiatan perpindahan secara fisik dalam bentuk perjalanan sehingga fenomena virtual tourism, jika memang ada, bukan merupakan kegiatan pariwisata, sebab tidak ada aktivitas perjalanan sama sekali di dalamnya 22)Guttentag, D. A. (2010). Virtual reality: Applications and implications for tourism. Tourism Management, 31(5), 637-651.. Namun sekali lagi, karena istilah yang digunakan adalah ‘virtual tourism’, maka kegiatan pariwisatanya pun hanya berupa ‘virtual’. Tidak hanya pengalaman berada di destinasinya yang tidak nyata, bahkan pengalaman perjalanan dari tempat asal ke tempat tujuan wisatanya pun dapat saja diciptakan secara virtual. Adapun alasan digunakannya istilah ‘tourism’ adalah hanya sebagai ‘pinjaman’, untuk mengganti kata ‘reality’. Maksud saya di sini adalah, tourism merupakan suatu aktivitas nyata yang mewakili ‘kondisi nyata’ (reality) dalam istilah virtual reality. Sehingga secara keseluruhan, virtual tourism bermakna kegiatan berwisata secara virtual (tidak nyata). Fenomena wisata dalam virtual tourism hanya merupakan salah satu produk teknologi virtual reality, dan jelas tidak dapat dikaitkan sama sekali dengan kegiatan wisata secara nyata.  Oleh karena itu, virtual tourism tidak termasuk ke dalam salah satu jenis wisata seperti halnya ‘dark tourism’ atau ‘heritage tourism’, namun kegiatan ini jelas termasuk kegiatan rekreasi.

Karena bersifat virtual, kegiatan virtual tourism tentu tidak akan memberikan manfaat bagi pemerintah, pebisnis dan masyarakat lokal di tempat tujuan wisata, karena perjalanannya sendiri tidak pernah dilakukan. Tidak akan ada interaksi antara wisatawan dan seluruh pemangku kepentingan di destinasi wisata. Manfaat dari segi budaya, seperti pelestarian dan pengenalan budaya masih dapat tercapai sampai pada batasan tertentu. Manfaat paling menonjol yang dapat diperoleh dari virtual tourism ini tentunya adalah kelestarian lingkungan, dimana pencemaran dan perusakan tidak akan terjadi karena sekali lagi, sebab tidak ada perjalanan wisata.

References   [ + ]

1, 14, 18. Cheong, R. (1995). The virtual threat to travel and tourism. Tourism Management, 16(6), 417-422.
2. Perry Hobson, J., & Williams, A. P. (1995). Virtual reality: a new horizon for the tourism industry. Journal of vacation marketing, 1(2), 124-135.
3. Williams, P., & Hobson, J. P. (1995). Virtual reality and tourism: fact or fantasy? Tourism Management, 16(6), 423-427.
4. Zeppel, H. (2011). Climate change and global tourism: A research compendium (Vol. 3): University of Southern Queensland, Australian Centre for Sustainable Tourism
5, 22. Guttentag, D. A. (2010). Virtual reality: Applications and implications for tourism. Tourism Management, 31(5), 637-651.
6. Yung, R., & Khoo-Lattimore, C. (2017). New realities: a systematic literature review on virtual reality and augmented reality in tourism research. Current Issues in Tourism, 22(17), 2056-2081.
7. Griffin, T., Giberson, J., Lee, S. H. M., Guttentag, D., Kandaurova, M., Sergueeva, K., & Dimanche, F. (2017). Virtual reality and implications for destination marketing.
8. Huang, Y. C., Backman, K. F., Backman, S. J., & Chang, L. L. (2016). Exploring the implications of virtual reality technology in tourism marketing: An integrated research framework. International Journal of Tourism Research, 18(2), 116-128.
9. Kim, M. J., Lee, C.-K., & Jung, T. (2020). Exploring consumer behavior in virtual reality tourism using an extended stimulus-organism-response model. Journal of Travel Research, 59(1), 69-89.
10. Rainoldi, M., Driescher, V., Lisnevska, A., Zvereva, D., Stavinska, A., Relota, J., & Egger, R. (2018). Virtual reality: an innovative tool in destinations’ marketing. The Gaze: Journal of Tourism and Hospitality, 9, 53-68.
11. Tussyadiah, I. P., Wang, D., & Jia, C. H. (2017). Virtual reality and attitudes toward tourism destinations. In Information and communication technologies in tourism 2017 (pp. 229-239): Springer.
12. Tussyadiah, I. P., Wang, D., Jung, T. H., & tom Dieck, M. C. (2018). Virtual reality, presence, and attitude change: Empirical evidence from tourism. Tourism Management, 66, 140-154.
13. Gutierrez, M., Vexo, F., & Thalmann, D. (2008). Stepping into virtual reality: Springer Science & Business Media.
15. Hobson, J. S. P., & Williams, A. P. (1995). Virtual reality: a new horizon for the tourism industry. Journal of vacation marketing, 1(2), 124-135.
16, 20. Dewailly, J. M. (1999). Sustainable tourist space: from reality to virtual reality? Tourism Geographies, 1(1), 41-55.
17. Tussyadiah, I. P., Wang, D., & Jia, C. H. (2016). Exploring the persuasive power of virtual reality imagery for destination marketing.
19. Sussmann, S., & Vanhegan, H. (2000). Virtual reality and the tourism product substitution or complement? ECIS 2000 Proceedings, 117.
21. Williams, P., & Hobson, J. P. (1995). Virtual reality and tourism: fact or fantasy? Tourism Management, 16(6), 423-427.